Coretan Malam

Malam ini aku teringat banget yg namanya persahabatan Geneiryodan.
Harusnya tgl 29 januari 2014 (tadi siang) kita semua berkumpul di SMA N 1 BANGSAL seperti tahun2 yang lalu untuk memperingati ulang tahun sekolah kita.
Tapi kenyataan sekarang sudah tdk seperti dahulu lagi. Geneiryodan sekarang bukan Geneiryodan yang dulu. Maksud kata2 ini bukan berarti geneiryodan makin terpuruk dan di ambang perpecahan, namun semakin tahun semakin bertambah jumlah anggota geneiryodan yg sepenuhnya mengabdi pada negara ini, mebinggalkan kota Mojokerto demi pengabdian dan ada pula yg meninggalkan Indonesia demi tugas negara.
Aku ingat pada beberapa tahun lalu, beberapa dari kita ke acara ulang tahun SMA BANGSAL dengan memakai seragam khusus angkatan 2007. Lengkap dengan dasi,bahkan kita memakai rompi yg pada saat kita kelas 3 dulu sebagai Almamater Geneiryodan. Walau dulu itu sempat dicekal oleh Bpk. Sudarto karena kita di dakwah menyalahi aturan berseragam sekolah.
Tapi pada tahun2 berikutnya kita tdk lagi ke acara Ultah SMA BANGSAL menggunakan seragam itu. Hehehe, jelas seragam itu sudah tak muat aku pakai lagi. Badan ini sudah tdk se sexy waktu SMA.
semakin brtambah tahun,semakin sedikit geneiryodan yg hadir di acara ultah. Aku kangen saat2 kita bisa kumpul bersama, aku kangen kita bercanda, aku kangen saat kita jalan2 bersama, seperti tak ada beban di hidup kita. Aku bahagia punya kalian semua, kalian bukan hanya teman, tapi lebih dari sahabat. Kalian adalah keluarga bagiku.
Tiap malam minggu kita bergantian begadang di rumah teman kita, bulan puasa kita sahur bersama, bahkan kita sempat usil di depan rumah guru kita pada saat sebelum sahur. Aku tahu semua itu tdk akan terulang lagi. Usia kita sudah bukan usia muda lagi..
Tapi semua itu akan jadi kenangan tak terlupakan bagi kita, dan mungkin kisah ini akan kita ceritakan kepada anak2 kita. Kisah persahabatan Geneiryodan yg tak akan pernah mati.
Malam ini pukul 01.05, aku tak bisa tidur. Aku tulis artikel ini bersamaan dengan tetesan airmata di pipiku, dan malam ini aku katakan "AKU KANGEN KALIAN SEMUA".

Jejak Ryodan

 Oleh Niken Suyanti pada 26 Desember 2011 pukul 9:02
 
Awal dari Sebuah Akhir


Sabtu pagi, saat aku sedang santai, sebuah sms masuk ke hp-ku.
Dolor2q bsk hri mggu tgl 25 ayo picnic bareng tmen2 SMA, kumpul dRmh e priyanto/arista jam 8.00 WIB, ushkn bsa yaw,,,satu dlm prsaudaraan
Blz
Nb : sbarkan kTmen2 laenx....
Pengirim:
Cahyo
Diterima:
09:25:38
24-12-2011


Aku langsung senyum-senyum sendiri. Asek-asek! Aku paling suka acara kumpul kebo (KEluarga Besar ryOdan) gini. Apalagi udah lumayan lama nggak ketemu sama teman-teman. Tanpa menunggu hari, jam, menit dan detik berlalu, aku langsung membalas sms. Tanya ini-itu dan dijawab itu-ini oleh Cahyo. Ok! Aku mau ikut. Sepanjang sejarah aku memang jarang sekali menolak kalau diajak ngumpul begini. Paling-paling kalau lagi berhalangan tiba-tiba nggak datang gitu aja, hehe.
Keesokan harinya, I mean hari ini, tepat jam delapan aku sms Cahyo. Memastikan apakah acaranya jadi atau batal? Tapi sampai jam sembilan Cahyo nggak bales juga. Ayaya, ternyata dia nggak ada pulsa. Sayangnya aku tidak tahu itu L. Ya sudah aku mandi aja dulu. Siapa tahu nanti selesai mandi Cahyo bales sms, kan nggak usah buru-buru mandi. Tinggal berangkat gitu aja. Sayangnya sampai aku selesai mandi, selesai siap-siap, selesai dandan (kapan kamu pernah dandan Niken? Hehe... Ntar aja kalau jeng Pri udah buka salon) dan selesai melakukan segala penyeselesaian, sms balesan dari Cahyo nggak datang juga.
Aku putuskan sms Adit. Simple aja sih, kalau memang jadi aku langsung meluncur. Kalau ternyata batal, aku mau galau total. Aku kan udah seneng banget sejak nerima sms kemarin. Aku juga udah heboh sendiri, pagi-pagi malah rajin nyuci kaki. Sampai-sampai nyuekin cucian yang jelas-jelas udah aku rendam dari semalam. Alhamdulillah, Adit malah langsung telepon. Dia nyuruh aku buru-buru datang. Katanya sih udah pada kumpul (bo’ong banget).
Aku sama sekali nggak ngira kalau acaranya beneran piknik. Kirain apen-apen, sori ya pren udah su’udzon. Pas aku datang, kira-kira jam setengah sepuluhan, rumahnya Pri masih sepi. Cuma ada Bayu dan tiga cewek berkerudung. Pri sendiri masih sembunyi. Nggak ada makanan di ruang tamu seperti biasanya (masih belum ngeh mau piknik beneran). Ah! Pasti semua lagi bercanda.
Biar cepet, acara menunggu diisi dengan nelponin dan ngomporin supaya yang lain buruan datang. Waktu di telepon, ada yang masih luluran, lagi bedakan, baru mau jalan, narik kreditan, bahkan ada juga yang lagi masang tali jemuran. Yang lucu itu Jepang. Dia kan sudah datang, eh malah balik pulang. Gara-garanya, dia datang dengan dandanan casual. Pakai kaos dan bawahan sketer pendek. Emang nggak salah sih, namanya juga orang mau piknik. Masak iya pakai sarung terus dasian? Ini lebih nggak lagi. Cuman, rencananya nanti kan mau ke makam Troloyo. Entah biar sopan atau untuk beberapa alasan lain yang tidak dapat disebutkan. Jepang malah balik pulang. Jadi deh, nambah lagi yang belum datang.
Acara yang dijadualkan jam delapan malah dimulai sekitar jam sebelas. Selalu seperti itu, molor nggak karuan. Kali ini molornya sampai tiga jam. Aku sih cuma nunggu satu setengah jam, jadi nggak seberapa. Lah, yang datang jam delapan? Apa mereka nggak karatan nunggu sampai tiga jam? Oh, jam...
Hm, yang penting kan nggak batal. Ini pertama kalinya kami piknik bersama. Benar-benar berasa kayak keluarga. Bawa nasi, ikan, sayur dan satu kresek penuh cemilan. Sepanjang perjalanan kerjaku cuma makan, sms-an, lihat kiri-kanan dan ngamen di setopan (ngasal). Mau ngapain lagi? Nyetir, jelas nggak bisa. Disetirin Viati yang udah lihai aja, jantung Puguh udah empot-empotan. Gimana kalau aku? Bisa empot beneran kali. Jadi penunjuk jalan apalagi. Seratus meter keluar dari rumah aja udah nggak tahu arah. Gimana bisa nunjukin jalan? So, biar semua ditangani ahlinya. Aku ikut bantu do’a aja.
Tujuan pertama, jemput Ketan dan istrinya. Iyalah, kasian udah nunggu dari tiduran sampai tidur beneran. Habis itu langsung tancap gas menuju Budha Tidur. Seumur-umur baru kali ini aku ke situ. Padahal lumayan deket dari rumah. Baru sekali ini juga aku ngelihat patung segede itu. Lagi tiduran pula.
“Ssssttt, jangan ribut!” seru Nindi. “Nggak lihat ada orang tidur apa? Ntar dia bangun gimana?”
Hehe, ada-ada saja Nindi. Kalau yang tidur macan, terus dia bilang gitu, masih oke lah. Singa juga nggak apa lah. Lah ini? Ini patung Nindiiiii. But, terima kasih untuk peringatannya.
Di situ banyak anak SD berpakaian Pramuka. Bawa buku tulis dan alat untuk menulis. Kami sih cuek saja. Kan ke sini mau piknik. Foto-foto dulu aja. Pose gini, model gitu, tanpa merasa kalau anak-anak SD itu malah asyik ngelihat kami dari pada patung Budha Tidurnya. Beberapa malah ngambil foto kami tanpa ijin. Berasa jadi artis sehari nih. Selesai foto di depan Budha Tidur kami jalan-jalan berkeliling kayak hansip lagi ronda. Jeprat-jepret kayak model papan penggilingan. Pokoknya semua sudut harus diabadikan.
Perjalanan berlanjut. Mobil bergerak perlahan menuju candi Brahu yang letaknya tidak jauh dari situ. Ke situ juga rasanya baru sekali ini. Biasanya aku ngelihat candi ini di foto atau di tipi kalau ada yang mengupas tuntas setajam silet tentang sejarah kerajaan Majapahit. Hari ini aku sudah ngelihat candinya beneran. Bukan di dalam foto atau di balik layar kaca lagi. Keren!
Begitu sampai, langsung nyari tempat yang teduh. Gelar tikar, mainkan musik, terus makan. Masakannya Pri gitu lo. Kalau nggak salah dan semoga betul, tadi itu menu utamanya asam manis kan? Terus sayurnya cah kangkung. Bener nggak sih? Hehe, ketahuan nggak bisa masak, nama menu masakan aja bingung. Tahunya cuma makan kalau lagi lapar dan berhenti sebelum nabrak.
Thanks a lot, Pri. Makanannya ajiiiiib. Perut kenyang, langsung kembali ke asal. Narsis sepanjang jaman. Lagi! Jepret sana-sini-sani.
Aku singkat aja deh. Soalnya udah panjang banget. Tujuan terakhir adalah Wonosalam. Ngapain lagi kalau bukan belah duren? Di situ kan gudangnya. Hum, sepanjang perjalanan udah ngebayangin gimana asyiknya? Sampai-sampai di dalem mobil Viati nyium bau duren. Yang ini sih yakin cuma halusinasi aja. Saking pinginnya, sampai otak
memanipulasi saraf penciuman. Orang masih jauh banget dari tempat yang jualan duren. Gimana bisa bau coba?
Jalannya kadang naik. Kadang turun. Kadang belok kiri. Kadang kanan. Kalau lurus aja itu jalannya kebenaran. Akhirnya, sampai deh di rumah yang di tuju. Rumahnya emak siapa tadi ya? Emak siapa Cah? Ya itu deh pokoknya. Sampai situ langsung disambut salak yang masih dompolan (apa ya bahasa Indonesianya?) dan rambutan. Keren ya orang sini. Minumnya sih sama kayak warung depan rumahku. Ada Sprite, fanta, coca-cola dan sebangsanya lah. Tapi, tapinya ini yang paling keren. Menu warungnya.
Bukan bakso Solo, soto Lamongan atau sate Madura. Di situ makannya, duren, salak, rambutan, petai besar kalau mau. Terus di samping warung ada pohon cermai. Itu juga bisa jadi menu kalau lagi berbuah. Di belakang kata si Puguh ada sukun juga. Rasanya aku pingin banget punya rumah di situ. Kan enak, mau nanam apa aja pasti berbuah. Termasuk nanam uang, kali aja bakal berbuah juga. Hehe, habis, buah apa yang nggak berbuah di situ?
Sayangnya, stok durennya lagi habis. Heu, batal deh belah durennya. Bukan batal sih, orang tadi udah belah tiga biji. Tapi masih kurang. Ya sudah lah, duren nggak ada, salak dan rambutan pun jadi. Pokoknya kan makan terus kenyang.
Awal dari sebuah akhir. Ini adalah piknik awal dan semoga terulang. Ini piknik pertama di bulan terakhir. Cocok nggak sih judul ini? Aku suka banget sama judul ini. Ini tuh judul salah satu episode film kartun Menggapai Mimpi. Aku pingin banget makai judul ini. Udah aku sebutin sumbernya. Semoga nggak kena cap plagiat ya. Orang ceritanya beda banget.
Pokok’e kita tetap SATU DALAM PERSAUDARAAN.
WebRepOverall rating

NB : Kiriman tersebut di tulis oleh teman kita yg namanya sudah saya tulis di atas melalui situs jejaring sosial FACEBOOK yang sengaja saya posting ulang di blog ini. Takjub dan tak menyangka yang saya rasakan, SALAM SATU DALAM PERSAUDARAAN

WISUDA PURNA WIDYA SMANSA BANGSAL 2007

Ada yang ingat kapan kita dulu di wisuda nggak?
Pasti banyak yang lupa. Kita dulu di wisuda dari SMA Negeri 1 Bangsal pada Hari Minggu Tanggal 27 Mei 2007 di Gedung KORPRI Kab. Mojokerto.
Ini ada sedikit kenang-kenangan tentang Wisuda kita dulu, foto-foto ini diambil dari Kamera Eka / BOM (XII IPA-2) dan sebagian lagi ada yang dari Kamera Puji Wahyu / Pujek (XII IPA-2).
Semoga foto-foto ini tetap abadi dan menjadi kenangan kita semua sebagai alumni SMA Negeri 1 Bangsal 2007.


Untuk lebih jelasnya, rekan-rekan bisa klik tombol di bawah ini :

KLIK DISINI